Pendahuluan
Dalam acara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2010 dengan tema Pendidikan Karakteristik Untuk Keberadaan Bangsa di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) Jakarta Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengungkapkan bahwa sebagai upaya membangun karakteristik bangsa, maka penerapan pendidikan karakteristik merupakan hal penting dan mendesak. Di antara karakter yang ingin dibangun adalah karakter yang berkemampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik, Giving the best, sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran. Mencermati fenomena sirkus, yaitu tercerabutnya karakter asli dari masyarakat, sehingga menimbulkan fenomena ANOMALI yang sifatnya ironis paradoksal menjadi feomena keseharian, yang dikawatirkan pada akhirnya dapat mengalami metadorfose karakter.
Apa yang dikawatirkan oleh Menteri Pendidikan Naional tersebut merupakan hal aktual dan mendasarkan. Kejadian-kejadian yang menimpa bangsa ini yang berhubungan dengan karakter sangat nyata, sejumlah korupsi yang melanda dan tidak saja pejabat rendahan tetapi juga pejabat tinggi negara, termasuk juga sejumlah pelaksana lembaga judisial yang seharusnya mengakkan hukum, malah sebaliknya melanggar hukum. projek fiktif, suap menyuap, makelar kasus, video mesum telah menjadi topik yang dibahas setiap hari dalam acara mas media, baik elektrnik maupun cetak. Tawuran antar warga, tawuran antar etnis, dan bahkan tawuran mahasiswa, masih menjadi fenomena yang terjadi pada kehidupan sekarang. Belum lagi dalm demontrasi (bentuk ekspresi masa dalam menolak sesuatu) acapkali berakhir ricuh, anarkis, sehingga menciptakan teror tersendiri bagi masyarakat yang cinta damai. Hal tersebut merupakan sesuatu hal yang anomali sebagai bangsa yang memegang falsafah hidup ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.
Untuk menangkal terjadinya metomorfose karakter atau perubahan karakter asli bangsa Indonesia, mendudukan kembalipenerapan pendidikan karakter merupakan hal yang penting dan mendesak. Hal ini penting,karena karakter itu sendiri merupakan ciri bangsa yang beradab yang sebenarnyasudah terbentuk berlangsung sejak berabad-abad silam ketika Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaanyang terpisah satu dengan yang lainnya. Menjadi sesuatu yang mendesak, sebab sebuah bangsa yang memiliki atau kehilangan karakter bisa menjadi bangsa yang tidak beradab, bahkan mungkin sedang menuju ke arah kehancuran bangsa itu sendiri.
Istilah karakter sama sekali bukan satu hal yang baru bagi bangsa Indonesia, sebab salah seorang foundasing father Republik Indonesia. Ir. Soekarno, telah menyatakan tentang pentingnya "nation and karakter building" bagi negara yang baru merdeka yang proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada masa Orde Baru, nilai-nilai masyarakat telah menjadi konsep pendidikan Moral Pancasila (PMP), namun karena pentingnya politik yang dipaksakan dan menjadi alat serta produk pada masa itu , maka konsep PMP tersebut kini hanya tinggal sebuah nama dalam perjalanan sejarah bangsa ini.
Untuk keperluan itu, bangsa Indonesia yang telah memilih Pancasila sebagai way of life yang bersumber tradisi masyarakat Nusantara di masa lampau, perlu kembali mendalami, menghayati serta menggali dan mengaktualisasikanan sumber-sumbertersebut ke dalam kehidupan masa kini, sehingga bangsa Indonesia yang besar ini benar-benar memiliki karakter.
Hakekat Pendidikan
Ramayulis dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam .....