Sabtu, 05 November 2011

Pendidikan

dunia pendidikan di Indonesia dikondisikan pada kepentingan untuk mengejar ekonomi, tapi kondisi ekonomi kita belumlah berhasil karena masih terjadi kemiskinan dan pengangguran yang berpotensi menghasilkan kecemburuan sosial.
Dari dimensi sosial budaya, kepribadian bangsa dapat dikatakan rusak akibat budaya konsumerisme dan sikap hidup materialistik yang semakin memperparah karakter bangsa, sebagai contoh di mana korupsi diberantas tetapi semakin merajalela. Selain itu, nilai-nilai sosial kemasyarakatan semakin rapuh dan maraknya konflik horizontal di berbagai daerah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penyebab krisis multidimensi harus dilihat dari berbagai aspek pendidikan, bukan hanya dilihat dari kecerdasan intelektual dan nilai kelulusan saja yang selama ini disebut sebagai kualitas, tetapi dihubungkan dengan kondisi Indonesia sekarang ini yang sedang mengalami berbagai krisis. Krisis kepemimpinan, mafia hukum, korupsi, pertikaian elit politik dan lain-lain, maka dapat disimpulkan bahwa yang diperlukan sekarang ini adalah pendidikan tentang nilai-nilai kemanusiaan, cinta tanah air dan turut bertanggung jawab dalam membangun bangsa. Berikut adalah kutipan yang menggambarkan kondisi pendidikan di Indonesia.
Selama bertahun-tahun dunia pendidikan di Indonesia terpasung oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang absurd, tersisih diantara hingar bingar ambisi untuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa. Pendidikan tampaknya kurang diarahkan untuk memanusiakan manusia secara utuh lahir dan batin, tetapi lebih diorientasikan pada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomis, teknokratis, kering dari sentuhan nilai-nilai moral, kemanusian dan budi pekerti. Pendidikan lebih mementingkan kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran, tanpa diimbangi dengan intensifnya pengembangan kecerdasan hati, perasaan, dan emosi. Akibatnya, apresiasi output pendidikan terhadap keunggulan nilai humanistik, keluhuran budi, dan hati budi nurani menjadi dangkal (Sodijarto, 2008).
Pendidikan di Indonesia selama ini ukuran keberhasilannya diterjemahkan dalam bentuk hasil Ujian Nasional, evaluasi hasil pendidikan hanya menyertakan unsur-unsur kompetensi tertentu saja seperti hasil Ujian Nasional yang berlaku sekarang ini, diakui sebagai ukuran keberhasilan. Hal serupa terjadi di perguruan tinggi. Ukuran keberhasilan ditentukan apabila mahasiswa tersebut tepat waktu dalam menyelesaikan kuliahnya dan IP tinggi. Kedua hal itu perlu, tetapi apabila hanya hal itu saja, maka tidak heran kalau lulusannya kurang bisa bergaul, banyak yang tidak jujur, atau menjadi pengusaha tanpa tanggung jawab sosial.
Dasar pemikiran dari uraian yang dipaparkan di atas, penulis akan membahas tentang Pendidikan dan Perubahan Sosial Budaya ldalam Membangun Bangsa. Hal-hal yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana pemahaman tentang Pendidikan sebagai Sosialisasi Kebudayaan ?
2. Bagaimana pemahaman masyarakat dalam mengimplementasikan Keanekaragaman Budaya dalam pendidikan nasional?
3. Bagaimana relevansi pendidikan dalam lingkup kebudayaan
4. Apakah Perubahan sosial dapat mempengaruhi proses pendidikan dalam membangun bangsa

Selasa, 31 Mei 2011


Pendahuluan
   Dalam acara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2010 dengan tema Pendidikan Karakteristik Untuk Keberadaan Bangsa di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) Jakarta Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengungkapkan bahwa sebagai upaya membangun karakteristik bangsa, maka penerapan pendidikan karakteristik merupakan hal penting dan mendesak. Di antara karakter yang ingin dibangun adalah karakter yang berkemampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik, Giving the best, sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran. Mencermati fenomena sirkus, yaitu tercerabutnya karakter asli dari masyarakat, sehingga menimbulkan fenomena ANOMALI yang sifatnya ironis paradoksal menjadi feomena keseharian, yang dikawatirkan pada akhirnya dapat mengalami metadorfose karakter.
   Apa yang dikawatirkan oleh Menteri Pendidikan Naional tersebut merupakan hal aktual dan mendasarkan. Kejadian-kejadian yang menimpa bangsa ini yang berhubungan dengan karakter sangat nyata, sejumlah korupsi yang melanda dan tidak saja pejabat rendahan tetapi juga pejabat tinggi negara, termasuk juga sejumlah  pelaksana lembaga judisial yang seharusnya mengakkan hukum, malah sebaliknya melanggar hukum. projek fiktif, suap menyuap, makelar kasus, video mesum telah menjadi topik yang dibahas  setiap hari dalam acara mas media, baik elektrnik maupun cetak. Tawuran antar warga, tawuran antar etnis, dan bahkan tawuran  mahasiswa, masih menjadi fenomena yang terjadi pada kehidupan sekarang. Belum lagi dalm demontrasi (bentuk ekspresi masa dalam menolak sesuatu) acapkali berakhir ricuh, anarkis, sehingga menciptakan teror tersendiri bagi masyarakat yang cinta damai. Hal tersebut merupakan sesuatu hal yang anomali  sebagai bangsa yang memegang falsafah hidup ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.
   Untuk menangkal terjadinya metomorfose karakter atau perubahan karakter asli bangsa Indonesia, mendudukan kembalipenerapan pendidikan karakter merupakan hal yang penting dan mendesak. Hal ini penting,karena karakter itu sendiri merupakan ciri bangsa yang beradab yang sebenarnyasudah terbentuk berlangsung sejak berabad-abad silam ketika Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaanyang terpisah satu dengan yang lainnya. Menjadi sesuatu yang mendesak, sebab sebuah bangsa yang memiliki atau kehilangan karakter bisa menjadi bangsa yang tidak beradab, bahkan mungkin sedang menuju ke arah kehancuran bangsa itu sendiri.
    Istilah karakter sama sekali bukan satu hal yang baru bagi bangsa Indonesia, sebab salah seorang foundasing father Republik Indonesia. Ir. Soekarno, telah menyatakan tentang pentingnya "nation and karakter building" bagi negara yang baru merdeka yang proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada masa Orde Baru, nilai-nilai masyarakat telah menjadi konsep pendidikan Moral Pancasila (PMP), namun karena pentingnya politik yang dipaksakan  dan menjadi alat serta produk pada masa itu , maka konsep PMP tersebut kini hanya tinggal sebuah nama dalam perjalanan sejarah bangsa ini.
    Untuk keperluan itu, bangsa Indonesia yang telah memilih Pancasila  sebagai way of life  yang bersumber tradisi masyarakat Nusantara di masa lampau, perlu kembali mendalami, menghayati serta menggali dan mengaktualisasikanan sumber-sumbertersebut ke dalam kehidupan masa kini, sehingga bangsa Indonesia yang besar ini benar-benar memiliki karakter.

Hakekat Pendidikan
Ramayulis dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam .....   



 
Pendahuluan

Dalam acara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2010 dengan tema Pendidikan Karakteristik Untuk Keberadaan Bangsa di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) Jakarta Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengungkapkan bahwa sebagai upaya membangun karakteristik bangsa, maka penerapan pendidikan karakteristik merupakan hal penting dan mendesak. Di antara karakter yang ingin dibangun adalah karakter yang berkemampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik, Giving the best, sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran. Mencermati fenomena sirkus, yaitu tercerabutnya karakter asli dari masyarakat, sehingga menimbulkan fenomena ANOMALI yang sifatnya ironis paradoksal menjadi feomena keseharian, yang dikawatirkan pada akhirnya dapat mengalami metadorfose karakter.

Apa yang dikawatirkan oleh Menteri Pendidikan Naional tersebut merupakan hal aktual dan mendasarkan. Kejadian-kejadian yang menimpa bangsa ini yang berhubungan dengan karakter sangat nyata, sejumlah korupsi yang melanda dan tidak saja pejabat rendahan tetapi juga pejabat tinggi negara, termasuk juga sejumlah pelaksana lembaga judisial yang seharusnya mengakkan hukum, malah sebaliknya melanggar hukum. projek fiktif, suap menyuap, makelar kasus, video mesum telah menjadi topik yang dibahas setiap hari dalam acara mas media, baik elektrnik maupun cetak. Tawuran antar warga, tawuran antar etnis, dan bahkan tawuran mahasiswa, masih menjadi fenomena yang terjadi pada kehidupan sekarang. Belum lagi dalm demontrasi (bentuk ekspresi masa dalam menolak sesuatu) acapkali berakhir ricuh, anarkis, sehingga menciptakan teror tersendiri bagi masyarakat yang cinta damai. Hal tersebut merupakan sesuatu hal yang anomali sebagai bangsa yang memegang falsafah hidup ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.

Untuk menangkal terjadinya metomorfose karakter atau perubahan karakter asli bangsa Indonesia, mendudukan kembalipenerapan pendidikan karakter merupakan hal yang penting dan mendesak. Hal ini penting,karena karakter itu sendiri merupakan ciri bangsa yang beradab yang sebenarnyasudah terbentuk berlangsung sejak berabad-abad silam ketika Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaanyang terpisah satu dengan yang lainnya. Menjadi sesuatu yang mendesak, sebab sebuah bangsa yang memiliki atau kehilangan karakter bisa menjadi bangsa yang tidak beradab, bahkan mungkin sedang menuju ke arah kehancuran bangsa itu sendiri.

Istilah karakter sama sekali bukan satu hal yang baru bagi bangsa Indonesia, sebab salah seorang foundasing father Republik Indonesia. Ir. Soekarno, telah menyatakan tentang pentingnya "nation and karakter building" bagi negara yang baru merdeka yang proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada masa Orde Baru, nilai-nilai masyarakat telah menjadi konsep pendidikan Moral Pancasila (PMP), namun karena pentingnya politik yang dipaksakan dan menjadi alat serta produk pada masa itu , maka konsep PMP tersebut kini hanya tinggal sebuah nama dalam perjalanan sejarah bangsa ini.

Untuk keperluan itu, bangsa Indonesia yang telah memilih Pancasila sebagai way of life yang bersumber tradisi masyarakat Nusantara di masa lampau, perlu kembali mendalami, menghayati serta menggali dan mengaktualisasikanan sumber-sumbertersebut ke dalam kehidupan masa kini, sehingga bangsa Indonesia yang besar ini benar-benar memiliki karakter.

Hakekat Pendidikan

Ramayulis dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam .....

Sabtu, 30 April 2011

PENDIDIKAN KARAKTERISTIK BERBASIS PANCASILA


Pendahuluan
   Dalam acara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2010 dengan tema Pendidikan Karakteristik Untuk Keberadaan Bangsa di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) Jakarta Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengungkapkan bahwa sebagai upaya membangun karakteristik bangsa, maka penerapan pendidikan karakteristik merupakan hal penting dan mendesak. Di antara karakter yang ingin dibangun adalah karakter yang berkemampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik, Giving the best, sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran. Mencermati fenomena sirkus, yaitu tercerabutnya karakter asli dari masyarakat, sehingga menimbulkan fenomena ANOMALI yang sifatnya ironis paradoksal menjadi feomena keseharian, yang dikawatirkan pada akhirnya dapat mengalami metadorfose karakter.
   Apa yang dikawatirkan oleh Menteri Pendidikan Naional tersebut merupakan hal aktual dan mendasarkan. Kejadian-kejadian yang menimpa bangsa ini yang berhubungan dengan karakter sangat nyata, sejumlah korupsi yang melanda dan tidak saja pejabat rendahan tetapi juga pejabat tinggi negara, termasuk juga sejumlah  pelaksana lembaga judisial yang seharusnya mengakkan hukum, malah sebaliknya melanggar hukum. projek fiktif, suap menyuap, makelar kasus, video mesum telah menjadi topik yang dibahas  setiap hari dalam acara mas media, baik elektrnik maupun cetak. Tawuran antar warga, tawuran antar etnis, dan bahkan tawuran  mahasiswa, masih menjadi fenomena yang terjadi pada kehidupan sekarang. Belum lagi dalm demontrasi (bentuk ekspresi masa dalam menolak sesuatu) acapkali berakhir ricuh, anarkis, sehingga menciptakan teror tersendiri bagi masyarakat yang cinta damai. Hal tersebut merupakan sesuatu hal yang anomali  sebagai bangsa yang memegang falsafah hidup ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.
   Untuk menangkal terjadinya metomorfose karakter atau perubahan karakter asli bangsa Indonesia, mendudukan kembalipenerapan pendidikan karakter merupakan hal yang penting dan mendesak. Hal ini penting,karena karakter itu sendiri merupakan ciri bangsa yang beradab yang sebenarnyasudah terbentuk berlangsung sejak berabad-abad silam ketika Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaanyang terpisah satu dengan yang lainnya. Menjadi sesuatu yang mendesak, sebab sebuah bangsa yang memiliki atau kehilangan karakter bisa menjadi bangsa yang tidak beradab, bahkan mungkin sedang menuju ke arah kehancuran bangsa itu sendiri.
    Istilah karakter sama sekali bukan satu hal yang baru bagi bangsa Indonesia, sebab salah seorang foundasing father Republik Indonesia. Ir. Soekarno, telah menyatakan tentang pentingnya "nation and karakter building" bagi negara yang baru merdeka yang proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada masa Orde Baru, nilai-nilai masyarakat telah menjadi konsep pendidikan Moral Pancasila (PMP), namun karena pentingnya politik yang dipaksakan  dan menjadi alat serta produk pada masa itu , maka konsep PMP tersebut kini hanya tinggal sebuah nama dalam perjalanan sejarah bangsa ini.
    Untuk keperluan itu, bangsa Indonesia yang telah memilih Pancasila  sebagai way of life  yang bersumber tradisi masyarakat Nusantara di masa lampau, perlu kembali mendalami, menghayati serta menggali dan mengaktualisasikanan sumber-sumbertersebut ke dalam kehidupan masa kini, sehingga bangsa Indonesia yang besar ini benar-benar memiliki karakter.

Hakekat Pendidikan
Ramayulis dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam .....   



 

Senin, 18 April 2011

Masydi Pendidikan

masyarakat yang di....... (masydi)dari segi Pendidikan dan budaya merupakan masyarakat dari satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan oleh pendidikan, melihat secara universal pendidikan secara umum yaitu terjadinya komunikan antara pribadi pendidik dan pribadi anak didik, antara pribadi seseorang pemberi ilmu pengetahuan kepada yang diberi ilmu pengetahuan, pengetahuan yang didapat melalui pendidikan maka timbullah suatu karya atau seni seseorang karya dan seni seseorang itulah mempunyai corak atau karakter yang yang dinamakan budaya, ciri khas, dan sebagainya......

pendidikan

Pendidikan

Pendidikan (education) merupakan hubungan antar pribadi pendidik dan pribadi anak didik. Dalam pergaulan terjadi kontak atau komunikasi antara masing-masing pribadi. Hubungan ini jika meningkat ke taraf hubungan pendidikan, maka terjadi hubungan antara pribadi pendidik dan pribadi anak didik. Hubungan menunjukkan bahwa anak didik hendak mengembangkan pribadinya dalam hal tertentu, dan ia mendapat bantuan pendidik secara sepantasnya. hubungan antara pendidik dan anak didikmelakukan tanggungjawab pendidikan dan kewibawaan pendidikan, pendidik bertindak demi kepentingan, keselamatan, anak didik dan anak didik mengakui kewibawaan pendidik serta bergantung kepadanya. Hubungan ini memberikan kesempatan kepada pendidik untuk mengenali anak didik dan memahami perkembangannya. Dengan demikian pendidik akan memberikan bantuan, pertolongan yang sesuai dengan kebutuhan anak didik. sebaliknya, anak didik mempunyai kesempatan bantuan dari anak didik (Driyarkara,1980:153)
Kutipan sedikit diatas adalah merupakan sebuah bentuk atau cermin bahwa hidup ini tidak lepas dari kontak atau hubungan pribadi dengan pribadi yang lain sehingga lahirlah sebuah komunikan dalam pendidikan, pendidikan secara umum yaitu pendidikan dari seseorang yang belum mengerti kepada yang mengerti, dengan adanya pendidikan oleh seseorang biasanya timbullah ilmu pengetahuan dan kebudayaan.